Foto kebun sawit dari udara biasanya terlihat hijau dan rapi. Yang menentukan nilai kebun justru hal-hal yang baru kelihatan saat Anda berjalan di dalamnya: batasnya, kondisi tanamannya, catatan produksinya, dan jalan keluar buahnya.

Checklist ini untuk Anda yang akan menyurvei kebun sawit sebelum membeli, entah kebun pekebun beberapa hektare atau perkebunan yang lebih luas. Bawa daftar ini ke lapangan dan periksa satu per satu.

Yang disiapkan sebelum berangkat

Dokumen dan peta:

  • Salinan sertifikat atau Surat Keterangan Tanah (SKT), beserta gambar atau sketsa batasnya.
  • Titik koordinat batas, kalau penjual punya.
  • Daftar blok dan tahun tanamnya.
  • Catatan produksi dan nota timbang, minimal 12 bulan.
  • Hasil pengecekan legalitas, terutama posisi kebun terhadap kawasan hutan. Panduannya ada di artikel legalitas kebun sawit.

Peralatan:

  • Ponsel dengan aplikasi GPS yang bisa merekam jalur, dengan peta yang tetap terbuka tanpa sinyal.
  • Power bank, sepatu bot, jas hujan, dan buku catatan.

Orang yang ikut:

  • Orang yang paham sawit, misalnya mandor berpengalaman atau agronom.
  • Penjual atau mandornya, untuk menunjukkan batas. Dengarkan keterangan mereka, tetapi cocokkan sendiri di lapangan.

Sediakan waktu yang cukup. Kebun puluhan hektare tidak bisa dilihat dalam satu jam.

Menyusuri batas kebun

Mulailah dari batas, karena luas dan letak kebun menentukan semua hitungan berikutnya.

  • Cari patok, parit batas, atau tanda lain di setiap sudut.
  • Rekam jalur GPS sambil berjalan menyusuri batas.
  • Bandingkan bentuk dan luas hasil rekaman dengan sketsa di sertifikat atau SKT. Selisih kecil wajar karena GPS ponsel tidak presisi. Selisih besar perlu dijelaskan penjual.
  • Perhatikan pokok di dekat batas. Apakah ditanam penjual, atau oleh tetangga?
  • Tanyakan apakah ada bagian kebun yang sedang diklaim pihak lain.

Kalau kebunnya bersertifikat, cocokkan juga rekaman Anda dengan peta bidang di BHUMI, layanan peta milik Kementerian ATR/BPN.

Membaca kondisi tanaman

Jangan hanya melihat blok di pinggir jalan. Masuklah sampai ke tengah dan ke sudut terjauh, karena blok yang paling mudah dilihat belum tentu mewakili seluruh kebun.

Tahun tanam dan asal bibit

Tanyakan tahun tanam setiap blok, lalu cocokkan dengan tinggi tanamannya. Pokok yang seumur dalam satu blok seharusnya terlihat seragam.

Minta bukti asal bibit, misalnya nota pembelian bibit bersertifikat. Bibit asalan umumnya berproduksi rendah, dan pertumbuhan yang sangat tidak seragam dalam satu blok bisa menjadi tandanya.

Kerapatan dan pokok kosong

Hitung jumlah pokok di beberapa baris pada beberapa titik, lalu bandingkan dengan jarak tanam yang disebut penjual. Catat pokok kosong, yaitu titik tanam yang pokoknya mati atau tidak pernah ditanam, dan sisipan, yaitu pokok pengganti yang lebih muda.

Banyak pokok kosong berarti produksi per hektare lebih rendah dari yang dibayangkan dari luas kebunnya.

Tanda perawatan

  • Piringan, lingkaran di sekeliling pangkal pokok, bersih dari gulma.
  • Pasar pikul, jalur panen, bisa dilalui.
  • Pelepah bekas tunasan tersusun rapi di gawangan, yaitu lorong di antara barisan pokok.
  • Brondolan, buah yang lepas dari tandan, dikumpulkan dan tidak dibiarkan tumbuh menjadi anak sawit.
  • Gawangan tidak dipenuhi semak berkayu yang tinggi.
  • Pemupukan bisa dibuktikan dengan catatan atau nota pembelian pupuk.

Penyakit dan riwayat kebakaran

Ganoderma atau busuk pangkal batang adalah penyakit serius pada sawit. Tanda yang perlu dicari:

  • Jamur berbentuk kuping di pangkal batang.
  • Beberapa daun tombak yang tidak membuka.
  • Pelepah bawah yang mengering dan menggantung.
  • Pangkal batang yang lapuk, atau pokok yang sudah tumbang.

Catat berapa pokok yang bergejala dan di blok mana. Kalau jumlahnya banyak, minta penilaian orang yang paham penyakit sawit sebelum menawar.

Untuk riwayat kebakaran, cari bekas arang, tunggul terbakar, atau batang yang menghitam. Perhatikan juga blok yang tanamannya jauh lebih muda dari sekitarnya, karena bisa jadi itu bekas terbakar yang ditanam ulang. Tanyakan ke tetangga apakah kebun itu ikut terbakar pada tahun-tahun kering seperti 2015 dan 2019.

Mencocokkan catatan produksi

Catatan produksi adalah dasar harga kebun, jadi jangan hanya mendengar angkanya.

  • Minta nota timbang dari pabrik kelapa sawit (PKS) atau pengepul untuk minimal 12 bulan.
  • Cocokkan dengan bukti transfer pembayaran buah ke rekening penjual.
  • Lihat nama di nota. Apakah atas nama penjual, atau atas nama pengepul yang juga membeli dari kebun lain?
  • Bandingkan dengan rotasi panen dan jumlah pokok yang Anda hitung. Produksi yang terlalu tinggi untuk tanaman yang Anda lihat perlu dipertanyakan.
  • Tanyakan bulan-bulan yang produksinya rendah dan apa penyebabnya.

Angka dari catatan ini dipakai untuk menghitung hasil bersih kebun. Caranya dijelaskan di artikel investasi kebun sawit.

Jalan, air, dan jarak ke pabrik

  • Jalan dan jembatan. Apakah bisa dilalui truk atau pikap pengangkut buah, dan siapa yang merawatnya?
  • Akses di musim hujan. Jalan tanah yang lancar di musim kemarau bisa berubah menjadi kubangan saat hujan. Datanglah di musim hujan, atau tanyakan ke warga.
  • Jarak ke PKS. Tandan buah segar (TBS) harus sampai di pabrik dalam sekitar satu atau dua hari setelah panen. Tanyakan ke mana buah dijual sekarang, siapa yang mengangkut, dan berapa lama perjalanannya.
  • Tempat pengumpulan hasil (TPH). Kalau survei bertepatan dengan hari panen, lihat buah di TPH. Tandan yang lama menumpuk menunggu angkutan bisa menandakan masalah transportasi.
  • Drainase. Parit kebun berfungsi dan tidak ada genangan lama di dalam blok.
  • Riwayat banjir. Cari bekas garis air di batang dan tanyakan kapan terakhir kebun terendam.
  • Gambut. Kalau kebun berada di lahan gambut, perhatikan muka air di parit, pintu air, dan pokok yang miring atau tumbang. Pokok miring di gambut bisa menjadi tanda permukaan gambut yang turun atau tata air yang kurang baik.

Orang-orang di sekitar kebun

  • Tenaga kerja. Tanyakan siapa yang memanen dan merawat sekarang, bagaimana mereka dibayar, dan apakah mereka bersedia tetap bekerja setelah kebun berpindah tangan.
  • Tetangga batas. Ajak bicara pemilik kebun di setiap sisi. Mereka tahu batas yang sebenarnya dan riwayat perselisihannya.
  • Kepala desa. Tanyakan apakah tanah itu tercatat di register desa, dan apakah pernah ada klaim warga atau klaim adat.
  • Pembeli buah. Kalau memungkinkan, temui pengepul yang biasa menerima buah dari kebun itu. Mereka bisa mengonfirmasi kira-kira berapa yang dikirim dan bagaimana mutunya.
  • Perusahaan di sebelahnya. Kalau kebun berbatasan dengan perkebunan perusahaan, tanyakan apakah pernah ada sengketa batas.

Langkah berikutnya

Setelah survei, tulis temuan Anda per bagian dan foto setiap masalah beserta lokasinya. Bandingkan temuan itu dengan harga yang diminta, lalu putuskan apakah Anda perlu menawar ulang, meminta penjual melengkapi dokumen, atau mundur.

Kalau memungkinkan, datanglah sekali lagi pada hari panen atau di musim yang berbeda. Kunjungan kedua bisa memperlihatkan hal yang terlewat pada kunjungan pertama.

Kebun sawit yang sedang dipasarkan Vorneo bisa Anda lihat di halaman kebun sawit dijual.