Bagi banyak pasangan muda, rumah pertama adalah keputusan keuangan besar yang pertama kali diambil berdua. Rasanya menyenangkan, tetapi juga penuh pertanyaan. Uang siapa yang dipakai untuk uang muka? Nama siapa di sertifikat? Kalau nanti punya anak, rumahnya masih cukup atau tidak?
Artikel ini membahas hal-hal yang khas dialami pasangan muda saat membeli rumah pertama. Untuk tahapan umum membeli rumah, Anda bisa membaca panduan membeli rumah pertama lebih dulu.
Mulai dari Obrolan Keuangan yang Jujur
Sebelum membuka iklan rumah, duduklah berdua dan buka semua angka. Berapa penghasilan masing-masing, berapa pengeluaran rutin, berapa tabungan, dan apakah ada utang atau cicilan yang sedang berjalan. Cicilan motor, kartu kredit, atau pinjaman online yang tidak dibicarakan sering baru ketahuan saat bank memeriksa riwayat kredit.
Sepakati juga cara mengelola uang. Ada pasangan yang menggabungkan semua penghasilan dalam satu rekening, ada yang membagi pos pengeluaran. Tidak ada yang salah, tetapi cicilan rumah perlu jelas dibayar dari mana dan siapa yang memastikan tidak telat.
Hal lain yang sering terlupa adalah rencana karier. Jika salah satu berencana melanjutkan kuliah, pindah kerja, atau berhenti bekerja setelah punya anak, hitung cicilan dengan skenario itu. Rumah yang cicilannya hanya terasa ringan jika dua gaji utuh adalah rumah yang berisiko.
Menyusun Anggaran Bersama
Sebagai patokan umum, banyak bank dan perencana keuangan memakai batas total cicilan sekitar sepertiga penghasilan. Untuk pasangan muda, ada baiknya memakai batas yang lebih longgar dari itu, karena pengeluaran biasanya naik tajam setelah anak lahir.
Pos yang perlu masuk anggaran awal:
- Uang muka, yang besarnya mengikuti kebijakan bank dan jenis rumah.
- Biaya transaksi, seperti biaya notaris, pajak, provisi, dan administrasi bank.
- Biaya pindahan dan isi rumah, mulai dari kasur, kompor, sampai gorden.
- Dana darurat, idealnya tetap utuh setelah semua biaya di atas dibayar.
Untuk menghitung plafon yang masuk akal, gunakan juga panduan menghitung kemampuan beli rumah.
Jika sebagian uang muka berasal dari orang tua, catat dengan jelas apakah itu hibah, pinjaman, atau bantuan untuk salah satu pihak saja. Kejelasan ini mencegah salah paham di kemudian hari, baik di antara Anda berdua maupun dengan keluarga besar.
Menggabungkan Penghasilan untuk KPR
Pasangan yang sudah menikah umumnya bisa mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan penghasilan gabungan. Plafon pinjaman bisa naik, tetapi keduanya ikut diperiksa di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan ikut menandatangani perjanjian kredit. Catatan kredit buruk salah satu pihak bisa memengaruhi pengajuan berdua.
Detail cara bank menghitungnya, dokumen yang diminta, dan risikonya sudah kami bahas di artikel KPR dengan penghasilan gabungan.
Pertimbangkan juga program rumah subsidi jika penghasilan Anda masuk kriterianya. Syaratnya, termasuk batas penghasilan dan ketentuan belum pernah memiliki rumah, bisa berubah, jadi cek langsung ke bank penyalur.
Nama Siapa di Sertifikat?
Pertanyaan ini sering memicu perdebatan kecil, padahal jawabannya lebih sederhana dari yang dikira.
Menurut Undang-Undang Perkawinan, rumah yang dibeli selama perkawinan menjadi harta bersama, apa pun nama yang tercantum di sertifikat. Rumah atas nama istri saja tetap milik berdua. Menjual atau menjaminkannya kelak memerlukan persetujuan pasangan. Penjelasan lengkapnya ada di artikel harta bersama dalam jual beli rumah.
Situasinya berbeda jika:
- Rumah dibeli sebelum menikah. Rumah itu menjadi harta bawaan pembelinya. Jika pasangan ikut membayar cicilan setelah menikah, bicarakan sejak awal bagaimana hal itu dihitung.
- Ada perjanjian perkawinan. Perjanjian pisah harta bisa mengubah siapa pemilik rumah. Sejak Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-XIII/2015, perjanjian ini juga bisa dibuat setelah menikah. Bahasan khususnya ada di artikel perjanjian pranikah dan properti.
- Uang muka berasal dari warisan salah satu pihak. Simpan buktinya dan konsultasikan dengan notaris, karena pembagian kelak bisa diperdebatkan.
Jadi, pilih nama di sertifikat berdasarkan kepraktisan urusan bank dan administrasi, bukan sebagai simbol siapa yang paling berjasa.
Rumah yang Siap untuk Anak
Banyak pasangan muda membeli rumah untuk keadaan hari ini, lalu kaget beberapa tahun kemudian karena rumah terasa sempit. Pikirkan rumah yang cukup untuk lima sampai sepuluh tahun ke depan.
Beberapa hal yang layak dicek:
- Jumlah kamar. Dua kamar sering jadi titik awal yang wajar. Satu kamar ekstra bisa dipakai sebagai ruang kerja dulu, lalu kamar anak.
- Ruang untuk berkembang. Apakah sisa tanah di belakang atau struktur bangunannya memungkinkan ditambah kamar atau lantai? Untuk perumahan, tanyakan aturan renovasi ke pengembang atau pengelola.
- Keamanan. Tangga curam, kolam ikan terbuka, atau rumah yang menghadap langsung ke jalan ramai perlu dipikirkan ulang jika Anda berencana punya balita.
- Lingkungan. Jarak ke sekolah, puskesmas atau rumah sakit, dan tempat bermain. Kunjungi lokasi pada jam berangkat sekolah untuk melihat lalu lintasnya.
Di Banjarmasin dan sekitarnya, perhatikan juga riwayat genangan. Banyak kawasan berada di tanah rawa dan dipengaruhi pasang surut sungai. Jalan yang tergenang setelah hujan deras bukan sekadar merepotkan, tetapi juga menyulitkan saat Anda harus membawa anak yang sakit ke dokter.
Jangan Habiskan Semua Tabungan
Kesalahan yang paling sering terjadi pada pasangan muda adalah menguras semua tabungan untuk uang muka, lalu tidak punya cadangan saat ada kebutuhan mendadak. Biaya persalinan, perbaikan rumah, atau salah satu kehilangan pekerjaan bisa datang kapan saja.
Lebih baik membeli rumah yang sedikit lebih kecil atau sedikit lebih jauh, tetapi masih menyisakan dana darurat, daripada rumah impian yang membuat Anda berdua cemas setiap tanggal jatuh tempo.
Tanyakan juga ke bank soal asuransi jiwa KPR: apakah hanya melindungi satu debitur atau keduanya. Untuk pasangan yang mengandalkan dua penghasilan, perlindungan untuk berdua layak dipertimbangkan.
Langkah Praktis untuk Memulai
- Buka semua angka keuangan berdua, termasuk utang dan cicilan.
- Cek riwayat SLIK masing-masing dan selesaikan tunggakan kecil lebih dulu.
- Tentukan cicilan yang masih aman jika hanya satu gaji yang berjalan untuk sementara.
- Sepakati asal uang muka dan catat jika ada bantuan keluarga.
- Pilih rumah dengan memikirkan rencana punya anak dalam beberapa tahun ke depan.
- Pahami status harta bersama sebelum memutuskan nama di sertifikat.
Membeli rumah pertama berdua lebih mudah jika semua hal dibicarakan terbuka sejak awal. Jika Anda sedang mencari rumah pertama di Banjarmasin, Banjarbaru, atau sekitarnya, tim Vorneo Property bisa membantu mencarikan pilihan yang pas dengan anggaran Anda berdua.